BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Produksi merupakan pusat pelaksanaan kegiatan yang
konkrit bagi pengadaan barang dan jasa pada suatu badan usaha dan perusahaan.
Proses produksi tersebut merupakan bagian yang terpenting dalam perusahaan,
karena apabila berhenti maka perusahaan akan mengalami kerugian.
Dalam kegiatan produksi faktor tenaga kerja
(karyawan) mempunyai pengaruh besar, karena tenaga kerjalah yang melaksanakan
proses produksi tersebut. Karyawan pada hakekatnya merupakan salah satu unsur
yang menjadi sumber daya dalam perusahaan. Sumber daya manusia inilah yang
menjalankan kegiatan sehari-hari. Karyawan merupakan living organism memungkinkan
berfungsinya suatu organisasi atau perusahaan dan menjadi unsur penting dalam
manajemen. Agar pekerja dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka di dalam
perusahaan diciptakan sistem manajemen yang dikenal dengan manajemen
kepegawaian.
Manajeman kepegawaian ini dapat dirumuskan sebagai
proses mengembangkan, menerapkan dan menilai kebijakan-kebijakan,
prosedur-prosedur, metode-metode dan program-program yang berhubungan dengan
individu dalam organisasi (Miner dan MG. Miner, 1979:23).
Karyawan yang memiliki semangat kerja yang tinggi
akan meningkatkan kehidupan organisasi atau perusahaan. Loyalitas dan semangat
kerja dapat dilihat dari mereka merasa senang dengan pekerjaannya. Mereka akan
memberikan lebih banyak perhatian, imajinasi dan keterampilan dalam pekerjaannya.
Dengan demikian diperlukan suatu motivator bagi karyawan yaitu berupa pemenuhan
kebutuhan fisik dan non fisik. Dengan terpenuhinya kebutuhan tersebut maka
karyawan akan bersedia bekerja dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka
akan lebih memusatkan perhatiannya terhadap tugas dan tanggung jawabnya,
sehingga hasil pekerjaan yang dicapai dapat meningkat. Untuk itulah dibutuhkan
suatu dorongan bagi karyawan di dalam menyelenggarakan kegiatan di suatu
perusahaan. Dorongan itulah yang disebut motivasi.
Motivasi sebagaimana diungkapkan Wursanto (1988:
132) adalah alasan, dorongan yang ada di dalam diri manusia yang menyebabkan
manusia melakukan sesuatu atau berbuat sesuatu. Motivasi karyawan dapat
dipengaruhi faktor minat, gaji yang diterima, kebutuhan akan rasa aman,
hubungan antar personal dan kesempatan untuk bekerja.
Setiap perusahaan berupaya untuk mendapatkan
karyawan yang terlibat dalam kegiatan organisasi/perusahaan dapat memberikan
prestasi kerja. Dalam bentuk produktivitas kerja setinggi mungkin untuk
mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Terdapat banyak faktor yang
dapat mempengaruhi produktivitas diantaranya semangat kerja dan disiplin kerja,
tingkat pendidikan, ketrampilan, gizi dan kesehatan, sikap dan etika, motivasi,
iklim kerja, teknologi, sarana produksi, kesempatan kerja dan kesempatan
berprestasi ( Ravianto, 1995 : 20 ).
Untuk mencapai produktivitas yang tinggi pimpinan
perusahaan harus memperhatikan semangat kerja dan disiplin kerja. Semangat
kerja merupakan sikap mental yang mampu memberikan dorongan bagi seseorang
untuk dapat bekerja lebih giat, cepat, dan baik. Semangat kerja karyawan yang
tinggi akan berpengaruh terhadap efisiensi kerja dan efektivitas kerja.
Hilangnya disiplin akan berpengaruh terhadap efisiensi kerja dan efektivitas
tugas pekerjaan. Dengan adanya kedisiplinan diharapkan pekerjaan akan dilakukan
seefektif mungkin. Bilamana kedisiplinan tidak dapat ditegakkan maka
kemungkinan tujuan yang telah ditetapkan tidak dapat dicapai secara efektif dan
efisien. ( Nitisemito, 1982 : 200 ).
Dewasa ini, badan usaha milik negara sebagai salah
satu pelaku ekonomi di Indonesia ikut serta berperan aktif dalam pembangunan
Nasional khususnya dalam sektor perindustrian yang kegiatannya menyediakan
barang dan jasa. Salah satu badan usaha tersebut adalah Perusahaan Daerah Air
Minum, bereksistensi dalam bidang penyediaan air bersih yang pengelolannya
masuk sampai ke daerah – daerah. Untuk mencukupi kebutuhan konsumennya
perusahaan air minum selalu meningkatkan pelayanan baik dari segi kualitas
maupun produktifitasnya.
Seperti kita ketahui, pada umumnya perusahaan harus
bisa mempertahankan citranya agar dapat memperluas / menguasai pangsa pasar.
Dalam hal ini perusahaan juga harus bisa meningkatkan kualitas perusahaan
misalnya dari segi intern perusahaan itu sendiri antara lain peningkatan
kualitas karyawan. Kualitas karyawan dapat dilihat dari motivasi yang di
berikan perusahan kepada karyawan melalui semangat dan disiplin karyawan
diharapkan dapat meningkatkan input perusahaan yang dapat mendatangkan profit.
Dalam melakukan kegiatan produksinya hampir semua menggunakan tenaga kerja
manusia, sehingga dalam proses produksi memerlukan ketrampilan tenaga kerja
manusia yang handal yang nantinya akan dapat meningkatkan produktifitas yang telah
ditentukan oleh perusahaan.
Diperlukan kondisi psikologis yang mendorong
karyawan untuk melakukan usaha sehingga yang dilakukan diharapkan dapat
mencapai tujuan perusahaan. Salah satu tujuan perusahaan adalah mendapatkan
laba yang bisa didapat dengan produktifitas yang tinggi. Sehingga apa yang
menjadi output perusahaan benar – benar dapat dinikmati konsumen. Karena saat
ini perusahaan air minum memiliki prospek cerah dimasa depan untuk lebih
mengembangkan usahanya. Hampir setiap rumah tangga menggunakan jasa Perusahaan
Daerah Air Minum untuk memenuhi kebutuhan air setiap harinya. Untuk
meningkatkan usaha pengembangan dan peningkatan ketrampilan karyawan yang
bertujuan untuk memperbaiki produktivitas kerja karyawan Perusahaan Daerah Air
Minum dalam mencapai hasil kerjanya yang telah ditetapkan oleh perusahaan salah
satunya adalah melalui peningkatan semangat kerja dan disiplin kerja sehingga
kelangsungan hidup perusahaan dapat dipertahankan dan tujuan perusahaan dapat
tercapai secara efektif dan efisien. Dari pra survey yang telah penulis
lakukan. Penulis melihat bahwa produktivitas kerja karyawan PDAM kota Lhokseumawe masih harus
ditingkatkan lagi, hal ini dapat dilihat dari kegiatan karyawan sehari-hari
dalam melakukan tugas dan pekerjaanya, masih ada karyawan yang datang terlambat dari jam
masuk yang telah ditentukan, istirahat yang terlalu lama, pulang terlalu awal
dan sebagainya.
Bertitik tolak pada
uraian latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat
tema ini lebih jauh, dengan memilih judul sebagai berikut : “Analisis
Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap
Produktivitas Kerja Karyawan
Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Lhokseumawe.”
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat disajikan
beberapa masalah pokok yaitu sebagai berikut :
1. Apakah
motivasi mempengaruhi
produktivitas kerja karyawan khususnya pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Lhokseumawe?
2. Variabel
manakah yang paling dominan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan pada
Perusahaan Daerah Air Minum Kota Lhokseumawe?
1.3
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar
belakang masalah dan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
penelitian ini mempunyai tujuan antara lain :
1. Untuk
melihat sejauh mana motivasi mempengaruhi produktivitas kerja karyawan pada
Perusahaan Daerah Air Minum Kota Lhokseumawe.
2. Untuk
mengetahui variabel mana yang paling dominan mempengaruhi produktivitas
karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Lhokseumawe.
1.4 Kegunaan
Penelitian
Berdasarkan hasil
penelitian ini, diharapkan akan diperoleh informasi yang dapat bermanfaat
antara lain:
1. Sebagai
bahan masukan atau perbandingan bagi pihak perusahaan mengenai pentingnya
motivasi dalam mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.
2. Sebagai
hasil karya dalam menambah wawasan pengetahuan yang dapat lebih memperluas pola
pikir pembaca khususnya mengenai
motivasi dalam kaitannya dengan produktivitas kerja karyawan.
1.5
Sistematika
Penulisan
Dalam
kaitannya dengan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya maka penulis
menguraikan kedalam 6 (enam) bab dengan sistematika sebagai berikut:
Bab
pertama adalah bab pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan.
Bab
kedua adalah tinjauan pustaka, kerangka pikir dan hipotesis yang berisikan
pengertian manajemen sumber daya manusia, pengertian motivasi, pengertian
produktivitas kerja, dan pengaruh motivasi terhadap produktivitas kerja.
Bab
ketiga adalah metode penelitian yang berisikan daerah penelitian, jenis dan
sumber data, metode pengumpulan data, populasi dan sampel, pengukuran instrumen
penelitian skala, metode analisis, definisi operasional variabel, serta
sistematika pembahasan.
Bab
keempat merupakan gambaran umum perusahaan berisikan sejarah singkat
perusahaan, struktur organisasi perusahaan, uraian tugas.
Bab
kelima adalah analisis dan pembahasan meliputi, analisis dari pembahasan
indikator dari motivasi yaitu kebutuhan fisiologis (X1), kebutuhan
akan keamanan dan keselamatan (X2),
kebutuhan sosial (X3), kebutuhan akan harga diri (X4), dan kebutuhan aktualisasi diri (X5), dan Produktivitas Kerja (Y), serta hasil dari uji
validitas, reabilitas, dan regresi.
Bab
keenam adalah merupakan bab penutup berisikan kesimpulan dan saran-saran yang
dianggap perlu.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Manajemen
Sumber Daya Manusia
MSDM
adalah suatu manajemen yang khusus mempelajari hubungan dan peranan manusia
dalam organisasi perusahaan. Unsur MSDM adalah manusia yang merupakan tenaga
kerja pada perusahaan, fokus yang dipelajari MSDM ini hanya masalah yang
berhubungan dengan tenaga kerja manusia saja.
Manusia
selalu berperan aktif dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi, karena
manusia menjadi perencanaan, perilaku, dan penentu terwujudnya tujuan
organisasi. Tujuan tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif karyawan meskipun
alat-alat yang dimiliki perusahaan begitu canggihnya. Alat-alat canggih yang
dimiliki perusahaan tidak ada manfaatnya bagi perusahaan. Jika peran aktif
karyawan tidak diikutsertakan. Mengatur karyawan adalah sulit dan kompleks,
karena mereka mempunyai pikiran, perasaan status, keinginan, dan latar belakang
yang heterogen yang dibawa ke dalam organisasi. Karyawan tidak dapat diatur dan
dikuasai sepenuhnya seperti mengatur mesin, modal, atau gedung.
Hasibuan
(2001 : 10) mengemukakan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan
seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien
membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Gomes
(2003 : 4) mengemukakan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah pengembangan
dan pemanfaatan personil (pegawai) bagi pencapaian yang efektif mengenai
sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan individual, organisasi, masyarakat, nasional,
dan internasional.
Simamora
(2004 : 4) bahwa manajemen sumber daya manusia adalah pendayagunaan
pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa, dan pengelolaan individu anggota
organisasi atau kelompok karyawan.
Hal
yang sama dikemukakan oleh Heidjrachman dan Husman (2002 : 5), manajemen sumber
daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan
dan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian dan
pemeliharaan tenaga kerja dengan maksud untuk membantu mencapai tujuan perusahaan.
Tujuan
utama manajemen sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kontribusi
pegawai terhadap organisasi dalam rangka mencapai produktivitas organisasi yang
bersangkutan. Hal ini dapat dipahami karena semua kegiatan organisasi
tergantung kepada manusia yang mengelola organisasi yang bersangkutan. Oleh
sebab itu, sumberdaya manusia tersebut harus dikelola agar dapat berdaya guna
dan berhasil guna dalam mencapai tujuan organisasi. Tujuan tersebut menurut
Sedarmayanti (2001 : 7) dapat dijabarkan ke dalam 4 tujuan yang lebih
operasional yaitu sebagai berikut :
1. Tujuan
Masyarakat (Social Objective)
Tujuan
masyarakat adalah untuk bertanggung jawab secara sosial, dalam hal kebutuhan
dan tantangan yang timbul dan masyarakat.
2. Tujuan
Organisasi (Organization Objective)
Tujuan
organisasi adalah untuk melihat bahwa manajemen sumber daya manusia itu ada
(exist), maka perlu adanya kontribusi terhadap pendayagunaan organisasi secara
keseluruhan.
3. Tujuan
Fungsi (Functional Objective)
Tujuan
fungsi adalah untuk memelihara kontribusi bagian lain agar mereka (sumber daya
manusia dalam tiap bagian) melaksanakan tugasnya secara optimal.
4. Tujuan
Personal (Personal Objective)
Tujuan personal adalah
untuk membantu pegawai dalam mencapai tujuan pribadinya, guna mencapai tujuan
organisasi. Tujuan pribadi pegawai diharapkan dapat dipenuhi, dan ml sudah
merupakan motivasi dan pemeliharaan terhadap pegawai yang bersangkutan.
Guna
mencapai tujuan manajemen sumber daya manusia yang telah dikemukakan, maka
suatu bagian atau departemen sumber daya manusia harus mengembangkan,
mempergunakan dan memelihara pegawai (sumber daya manusia) agar semua fungsi
organisasi dapat berjalan seimbang. Kegiatan manajemen sumber daya manusia
merupakan bagian dan proses manajemen sumber daya manusia yang paling sentral
dan merupakan rantai kunci dalam mencapai tujuan organisasi. Kegiatan manajemen
sumber daya manusia akan berjalan lebih lancar, bila memanfaatkan fungsi-fungsi
manajemen sumber daya manusia.
2.1.2
Pengertian Motivasi
Motivasi
adalah proses psikologis yang mendasar dan merupakan salah satu unsur yang
dapat menjelaskan perilaku seseorang. Motivasi berasal dari kata “movere” dalam bahasa latin yang berarti
“bergerak” atau “menggerakkan”. Menurut beberapa ahli, motivasi didefinisikan
sebagai berikut :
1.
Hamzah B. Uno (2007)
mengatakan bahwa motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan tingkah laku
seseorang. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk
melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu,
perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema
sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.
2.
Christine Harvey (1996)
mengatakan bahwa motivasi adalah komoditi yang sangat dibutuhkan oleh semua
orang.
3.
Thomas L. Good dan Jere
E. Brophy (1990) mengatakan bahwa motivasi sebagai konstruk hipotesis yang
digunakan untuk menjelaskan keinginan, arah, intensitas, dan keajegan perilaku
yang diarahkan oleh tujuan.
4.
Don Hellriegel dan Jhon
W. Slocum (1979) mengatakan bahwa motivasi adalah proses psikologis yang dapat
menjelaskan perilaku seseorang. Perilaku hakikatnya merupakan orientasi pada
satu tujuan. Dengan kata lain, perilaku seseorang dirancang untuk mencapai
tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses interaksi dari
beberapa unsur. Dengan demikian, motivasi merupakan kekuatan yang mendorong
seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan.
5.
Menurut Hasibuan
(2007:219) motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan
kerja sseorang, agar mereka mau berkerjasama, bekerja efaktif dan terintregasi
dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.
Dari
definisi diatas, maka motivasi dapat didefinisikan sebagai masalah yang sangat
penting dalam setiap usaha kelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai
tujuan organisasi, masalah motivasi dapat dianggap simpel karena pada dasarnya
manusia mudah dimotivasi, dengan memberikan apa yang diinginkannya. Masalah
motivasi, dianggap kompleks, karena sesuatu dianggap penting bagi orang
tertentu.
Menutut
Lau dan Shani (1992) dalam Zuhdi (2006), terdapat dua pendekatan umum dalam
mempelajari motivasi, yaitu teori isi dan teori proses.
1.
Teori isi adalah teori
yang menjelaskan mengenai profil kebutuhan yang dimiliki seseorang. Teori ini
berusaha mengidentifikasikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan motivasi
kerja. Teori isi antara lain adalah Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, Teori E-R-G, Teori
Dua Faktor, dan Teori Tiga Motif Sosial.
2.
Teori proses
menjelaskan proses melalui dimana munculnya hasrat seseorang untuk menampilkan
tingkah laku tertentu. Teori ini berkaitan dengan identifikasi variabel dalam
motivasi dan bagaimana variabel-variabel tersebut saling berkaitan. Beberapa
teori proses antara lain Teori Keadilan dan Teori Ekspektansi.
Dari
beberapa teori motivasi tersebut diatas, maka teori yang dipakai dalam
penelitian ini adalah teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham Maslow yang dikenal dengan “Teori
Hierarki Kebutuhan”. Alasan penulis menggunakan teori ini, karena teori ini
merupakan teori dasar yang mewakili kebutuhan-kebutuhan manusia.
Setiap organisasi selalu berupaya untuk berhasil dalam mencapai tujuan. Ini
dilakukan agar kelangsungan hidup organisasi tetap terjaga dalam menjaga
stabilitas produktivitasnya. Penjelasan
mengenai konsep motivasi manusia menurut Abraham Maslow mengacu pada lima
kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis, yaitu:
1. Kebutuhan
Fisiologis (Physiological Needs)
Merupakan kebutuhan pada tingkat
yang paling bawah. Kebutuhan ini merupakan salah satu dorongan yang kuat pada
diri manusia, karena merupakan kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Manifestasi
kebutuhan ini terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Bagi
karyawan, kebutuhan akan gaji, uang lembur, perangsang, hadiah-hadiah dan
fasilitas lainnya seperti rumah, kendaraan dll. menjadi motif dasar dari
seseorang mau bekerja efektif dan dapat memberikan produktivitas yang tinggi
bagi organisasi.
2. Kebutuhan
akan Rasa Aman (Security Needs)
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan
tingkat kedua. Seseorang mempunyai harapan untuk dapat memenuhi standar hidup
yang dianggapnya wajar. Kebutuhan ini mengarah kepada rasa keamanan,
ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatan-nya, wewenangnya
dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat bekerja dengan antusias dan
penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal atas kedudukan dan
wewenangnya.
3. Kebutuhan
Sosial (Social Needs)
Kebutuhan sosial ini sering juga
disebut kebutuhan untuk dicintai dan mencintai, atau kebutuhan untuk menjadi
bagian dari kelompok tertentu. Kebutuhan akan diikutsertakan, mening-katkan
relasi dengan pihak-pihak yang diperlukan dan tumbuhnya rasa kebersamaan
termasuk adanya sense of belonging dalam organisasi.
4. Kebutuhan
akan Harga Diri atau Martabat (Esteem
Needs)
Kebutuhan pada tingkat keempat
adalah kebutuhan akan harga diri atau martabat. Termasuk juga kebutuhan akan
status dan penghargaan. Kebutuhan akan kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian.
Seseorang mempunyai kecenderungan untuk dipandang bahwa mereka adalah penting,
bahwa apa yang mereka lakukan ada artinya, bahwa mereka mempunyai kontribusi
pada lingkungan sekitarnya.
5. Kebutuhan
untuk Mewujudkan Diri (Self Actualization
Needs)
Kebutuhan ini merupakan tingkat
kebutuhan yang paling tinggi. Kebutuhan ini antara lain perasaan bahwa
pekerjaan yang dilakukannya adalah penting, dan ada keberhasilan atau prestasi
yang ingin dicapai. Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan
baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan
(kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai
citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan
kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita
organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih
tinggi.
Menurut Maslow (1943),
kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut muncul dalam hirarki yang berbeda. Teori Maslow secara mutlak menunjukkan perwujudan diri
sebagai pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan pertumbuhan dan
pengembangan individu. Perilaku yang ditimbulkannya dapat dimotivasikan oleh
manajer dan diarahkan sebagai subjek-subjek yang berperan. Dorongan yang dirangsang
ataupun tidak, harus tumbuh sebagai subjek yang memenuhi kebutuhannya
masing-masing yang harus dicapainya dan sekaligus selaku subjek yang mencapai
hasil untuk sasaran-sasaran organisasi.
Skema I:
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan
kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya
dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya
dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat
klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan
intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena
manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu
tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat psikologikal, mental,
intelektual dan bahkan juga spiritual.
Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya
organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya
pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik”
Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”.
Penyempurnaan tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki
kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah hierarki dapat
diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga.
Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai
dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep
tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak
akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua, dalam hal ini keamanan sebelum
kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang
ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian
pula seterusnya.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai
kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan
hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan
bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan.
Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan
ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin
berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila
berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai
hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
1. Kebutuhan yang satu saat sudah
terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
2. Pemuasaan berbagai kebutuhan
tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif
menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
3. Berbagai kebutuhan tersebut tidak
akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana
seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Meskipun
demikian, hirarki kebutuhan ini bersifat mekanikal dan kronologikal. Artinya
kebutuhan akan rasa aman tidak muncul tiba-tiba setelah kebutuhan fisiologis
sepenuhnya terpuaskan. Setelah suatu jenis kebutuhan cukup terpenuhi, mungkin
akan muncul tingkat kebutuhan berikutnya.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak
lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi
pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang
lebih bersifat aplikatif.
Maslow menggambarkan manusia yang sudah mengaktualisasikan
diri sebagai orang yang sudah terpenuhi semua kebutuhannya dan melakukan apapun
yang bisa mereka lakukan, dengan mengidentifikasikan 15 ciri orang yang telah
mengaktualisasikan diri sebagai berikut:
1. Memiliki persepsi akurat tentang
realitas.
2.
Menikmati pengalaman baru.
3.
Memiliki kecenderungan untuk mencapai pengalaman puncak.
4.
Memiliki standar moral yang jelas.
5.
Memiliki selera humor.
6.
Merasa bersaudara dengan semua manusia.
7.
Memiliki hubungan pertemanan yang erat.
8.
demokratis dalam menerima orang lain.
9.
Membutuhkan privasi.
10. Bebas dari budaya dan lingkungan.
11. Kreatif.
12. Spontan.
13. Lebih berpusat pada permasalahan,
bukan pada diri sendiri.
14. Mengakui sifat dasar manusia.
15. Tidak selalu ingin menyamakan diri
dengan orang lain.
Agar menjadi orang yang sudah
mencapai aktualisasi diri, tidak selalu dengan menampilakan semua ciri
tersebut. Dan tidak hanya orang yang sudah mengaktualisasikan diri yang
menampilakan ciri-ciri tersebut. Namun, orang-orang yang menurut Maslow adalah
orang yang mengaktualisasikan diri umumnya lebih sering menampilkan ciri-ciri
tersebut dibandingkan kebanyakan dari kita. Sebagian besar dari lima belas ciri
tersebut sudah jelas dengan sendirinya, tetapi kita mungkin bertanya-tanya
tentang pengalaman puncak (experience peak). Maslow mendefinisikan pengalaman
puncak sebagai saat-saat tatkala dunia tampak utuh dan orang itu merasa selaras
dengannya. Pengalaman puncak selalu melekat dalam diri kita dan mengubah
persepsi kita mengenai dunia agar menjadi lebih baik lagi.
Bagi sebagian orang, pengalaman
puncak diasosiasikan dengan agama, tetapi bisa juga tercetus melalui seni,
musik, dan momen-momen yang memerlukan pengambilan resiko. Maslow tidak
menyamakan aktualisasi diri dengan kesempurnaan. Orang-orang yang bisa mengaktualisasikan
diri pada dasarnya hanya memenuhi potensi dirinya sendiri. Dengan demikian,
seseorang bisa saja menjadi tolol, boros, sombong dan tidak sopan sekaligus,
tetapi masih tetap bisa mengaktualisasikan dirinya. Orang yang mampu mencapai
aktualisasi diri hanya kurang dari satu persen, sebab tidak banyak dari kita
yang bisa memenuhi semua kebutuhan yang lebih rendah dalam hierarki
Motivasi timbul karena dua
faktor, yaitu dorongan yang berasal dari dalam manusia (faktor individual atau
internal) dan dorongan yang berasal dari luar individu (faktor eksternal).
Faktor individual yang biasanya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu
adalah :
1.
Minat
Seseorang
akan merasa terdorong untuk melakukan suatu kegiatan kalau kegiatan tersebut
merupakan kegiatan yang sesuai dengan minatnya. Seseorang karyawan yang
mempunyai minat yang tinggi ditandai dengan:
a. Perasaan
senang bekerja
b. Kesesuaian
bekerja sesuai dengan keinginan
c. Merasa
sesuai dengan kebijakan pimpinan
2.
Sikap Positif
Seseorang yang mempunyai sikap positif terhadap
suatu kegiatan dengan rela ikut dalam kegiatan tersebut, dan akan berusaha
sebisa mungkin menyelesaikan kegiatan yang bersangkutan dengan sebaik-baiknya.
Seorang karyawan mempunyai sikap positif terhadap pekerjaannya ditandai dengan:
a. Merasa
senang apabila target yang diinginkan perusahaan terpenuhi
b. Mempunyai
loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan
c. Mempunyai
disiplin kerja yang tinggi
3.
Kebutuhan
Setiap orang mempunyai kebutuhan tertentu dan akan
berusaha melakukan kegiatan apapun asal kegiatan tersebut bisa memenuhi
kebutuhannya. Rangsangan berupa gaji atau upah, bonus, intensif banyak menarik
orang karena memberikan pengaruh terhadap kepuasan seseorang diluar pekerjaan.
Kepuasan-kepuasan yang ditimbulkan oleh penerima gaji itu antara lain.
a. Gaji
memungkinkan seseorang memenuhi kebutuhan fisik serta keluarganya.
b. Gaji
jika cukup besarnya mungkin dapat pula dipakai untuk membeli
kebutuhan lain yang bersifat sekunder.
c.
Gaji sering pula
dipandang sebagai simbol kekayaan.
d.
Gaji juga menempatkan
seseorang pada kedudukan yang tinggi dalam status dan gengsi sosial.
2.1.3
Pengertian
Produktivitas Kerja
Produktivitas adalah tidak lebih dari
sekedar ilmu pengetahuan, teknologi, manajamen karena produktivitas mengandung
pula falsafah dan sikap mental yang selalu bermotivasi pada pengembangan diri
menuju mutu kehidupan hari esok yang lebih baik. Produktivitas juga diartikan
sebagai tingkatan efiensi dalam memproduksi barang dan jasa, produktivitas
mengutarakan cara pemanfaatan secara baik terhadap sumber-sumber dalam
memproduksi barang.
Setiap organisasi baik berbentuk
perusahaan maupun lainnya akan selalu berupaya agar para anggota atau pekerja
yang terlibat dalam kegiatan organisasi dapat memberikan prestasi dalam bentuk
produktivitas kerja yang tinggi untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
Definisi produktivitas secara sederhana
adalah hubungan antara kualitas yang dihasilkan dengan jumlah kerja yang
dilakukan untuk mencapai hasil itu. Sedangkan secara umum adalah bahwa
produktivitas merupakan ratio antara kepuasan atas kebutuhan dan pengorbanan
yang dilakukan.
Menurut Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo (
1995: 281 ) produktivitas adalah sebuah konsep yang menggambarkan hubungan
antara hasil (jumlah barang dan jasa) dengan sumber ( jumlah tenaga kerja,
modal, tanah, energi, dan sebagainya) yang dipakai untuk menghasilkan hasil
tersebut.
Menurut Mukiyat ( 1998: 481 ) bahwa
produktivitas kerja biasanya dinyatakan dengan suatu imbangan dari hasil kerja
rata-rata dalam hubungannya dengan jam kerja rata-rata dari yang diberikan
dengan proses tersebut.
Menurut Komarudin, produktivitas pada
hakekatnya meliputi sikap yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa metode
kerja hari ini harus lebih baik dari metode kerja kemarin dan hasil yang dapat
diraih esok harus lebih banyak atau lebih bermutu daripada hasil yang diraih
hari ini (Komarudin, 1992:121).
Sedangkan menurut Woekirno produktivitas
adalah kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang
telah atau sedang berada dalam usahanya.
Bambang Kusriyanto (1993) juga
memberikan pendapatnya bahwa produktivitas merupakan nisbah atau ratio antara
hasil kegiatan (output) dan
segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input).
Menurut Sondang P Siagian, produktivitas
kerja adalah kemampuan memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari sarana dan
prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal, kalau mungkin
yang maksimal (Sondang P Siagian, 1982:15).
Pengertian
tersebut menjelaskan bahwa di dalam meningkatkan produktivitas kerja memerlukan
sikap mental yang baik dari pegawai, disamping itu peningkatan produktivitas
kerja dapat dilihat melalui cara kerja yang digunakan dalam melaksanakan
kegiatan dan hasil kerja yang diperoleh. Sehingga dari pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa di dalam produktivitas kerja terdapat unsur pokok yang
merupakan kriteria untuk menilainya. Ketiga unsur tersebut adalah unsur-unsur
semangat kerja, cara kerja, dan hasil kerja.
Unsur
pertama dari
produktivitas kerja adalah semangat kerja dapat diartikan sebagai sikap mental para
pegawai dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dimana sikap mental ini ditunjukan
oleh adanya kegairahan dalam melaksanakan tugas dan mendorong dirinya untuk
bekerja secara lebih baik dan lebih produktif. Sehingga apabila kondisi yang
demikian dapat dijaga dan dikembangkan terus menerus, tidak mustahil upaya
untuk meningkatkan produktivitas kerja akan dapat tercapai. Untuk menilai
semangat kerja karyawan dapat dilihat dari tanggung jawabnya dalam melaksanakan
tugas pekerjaanya. Hal ini sebagai mana dikemukakan oleh Alfred R.
Lateiner dan LE. Lavine bahwa “faktor-faktor yang mempunyai pengaruh
terhadap semangat kerja yaitu kesadaran akan tanggung jawab terhadap
pekerjaanya” (Alfred R. Lateiner dan JE. Lavine, 1983: 57).
Unsur
kedua dari produktivitas kerja adalah cara kerja atau metode kerja. Cara atau
metode kerja pegawai dalam melaksanakan tugas pekerjaannya dapat dilihat
melalui kesediaan para pegawai untuk bekerja secara efektif dan efisien.
Ukuran
ketiga dari produktivitas kerja adalah hasil kerja. Hasil kerja merupakan hasil
yang diperoleh dari pekerjaan yang dilaksanakan oleh karyawan. Hasil kerja yang
diperoleh oleh pegawai merupakan prestasi kerja pegawai dalam melaksanakan
tugas-tugasnya. Hasil kerja ini dapat dilihat dari jumlah atau frekuensi di
atas standar yang ditetapkan. Hal ini menandakan bahwa karyawan tersebut
produktif di dalam menyelesaikan tugas-tugas pekerjaannya.
Berdasarkan
uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa produktivitas
kerja pegawai dapat diukur dengan adanya semangat dan disiplin kerja dari pegawai dalam menyelesaikan setiap
tugas yang dibebankannya, dengan selalu berdasarkan pada cara kerja atau metode
kerja yang telah ditetapkan sehingga akan diperoleh hasil kerja yang
memuaskan.
Dari
pendapat di atas, dapat menyimpulkan bahwa produktivitas kerja adalah suatu
kemampuan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan suatu produk atau hasil
kerja sesuai dengan mutu yang ditetapkan dalam waktu yang lebih singkat dari
seorang tenaga kerja.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
produktivitas kerja Menurut Sukarna (1993:41), produktivitas kerja dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu :
a.
Kemampuan dan
ketangkasan karyawan.
b.
Managerial skill atau kemampuan pimpinan
perusahaan.
c.
Lingkungan kerja yang
baik.
d.
Lingkungan masyarakat
yang baik.
e.
Upah kerja.
f.
Motivasi pekerja untuk
meraih prestasi kerja.
g.
Disiplin kerja
karyawan.
h.
Kondisi politik atau
keamanan, dan ketertiban negara.
i.
Kesatuan dan persatuan
antara kelompok pekerja.
j.
Kebudayaan suatu
negara.
k.
Pendidikan dan
pengalaman kerja.
l.
Kesehatan dan
keselamatan pekerja karyawan.
m.
Fasilitas kerja.
Kebijakan dan sistem administrasi perusahaan.
2.2
Penelitian
Sebelumny
a
Produktivitas
merupakan nisbah atau rasio antara hasil kegiatan (output, keluaran) dan segala
pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input, masukan)
(Kussriyanto, 1984, p.1). Input bisa mencakup biaya produksi (production cost)
dan biaya peralatan (equipment cost). Sedangkan output bisa terdiri dari penjualan
(sales), earnings (pendapatan), market share, dan kerusakan (defects)
(Gomes,1995, p.157).
Produktivitas
tenaga kerja adalah salah satu ukuran perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Sumber daya manusia merupakan elemen yang paling strategik dalam organisasi,
harus diakui dan diterima oleh manajemen. Peningkatan produktivitas kerja hanya
mungkin dilakukan oleh manusia (Siagian, 2002, p.2). Oleh karena itu tenaga
kerja merupakan faktor penting dalam mengukur produktivitas. Hal ini disebabkan
oleh dua hal, antara lain; pertama, karena besarnya biaya yang dikorbankan
untuk tenaga kerja sebagai bagian dari biaya yang terbesar untuk pengadaan
produk atau jasa; kedua, karena masukan pada faktor-faktor lain seperti modal
(Kussriyanto, 1993, p.1).
Menurut
Anoraga dan Suyati, (1995, p.119-121) produktivitas mengandung pengertian yang
berkenaan dengan konsep ekonomis, filosofis dan sistem. Sebagai konsep
ekonomis, produktivitas berkenaan dengan usaha atau kegiatan manusia untuk
menghasilkan barang atau jasa yang berguna untuk pemenuhan kebutuhan manusia
dan masyarakat pada umumnya.
Sebagai
konsep filosofis, produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental
yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini
harus lebih baik dari hari kemarin, dan mutu kehidupan hari esok harus lebih
baik dari hari ini. Hal inilah yang memberi dorongan untuk berusaha dan
mengembangkan diri. Sedangkan konsep sistem, memberikan pedoman pemikiran bahwa
pencapaian suatu tujuan harus ada kerja sama atau keterpaduan dari unsur-unsur
yang relevan sebagai sistem.
Dapat
dikatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil dari suatu
pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah: “Kemampuan
memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang
tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang
maksimal.”
Banyak
hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa produktivitas sangat dipengaruhi
oleh faktor: knowledge, skills, abilities, attitudes, dan behaviours dari para
pekerja yang ada di dalam organisasi sehingga banyak program perbaikan
produktivitas meletakkan hal-hal tersebut sebagai asumsi-asumsi dasarnya
(Gomes, 1995, p.160).
Pengertian
lain dari produktivitas adalah suatu konsep universal yang menciptakan lebih
banyak barang dan jasa bagi kehidupan manusia, dengan menggunakan sumber daya
yang serba terbatas (Tarwaka, Bakri, dan Sudiajeng, 2004, p.137).
Menurut
Manuaba (1992) peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan
sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan sumber daya
manusia (do the right thing) dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya (do the
thing right). Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari
tingkat efisiensi dan efektivitas kerja secara total (Tarwaka, Bakri, dan
Sudiajeng, 2004, p.138).
Menurut
Sinungan, (2003, p.12), secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan
antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan masuknya yang
sebenarnya. Produktivitas juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam
memproduksi barang-barang atau jasa-jasa
Ukuran produktivitas yang
paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan
membagi pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja orang.
Pengukuran produktivitas tenaga
kerja menurut system pemasukan fisik perorangan/perorang atau per jam kerja
orang diterima secara luas, namun dari sudut pandangan/ pengawasan harian,
pengukuran-pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, dikarenakan adanya
variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang
berbeda. Oleh karena itu, digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam,
hari atau tahun). Pengeluaran diubah ke dalam unit-unit pekerja yang biasanya
diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja
yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar.
Karena hasil maupun masukan
dapat dinyatakan dalam waktu, produktivitas tenaga kerja dapat dinyatakan
sebagai suatu indeks yang sangat sederhana = Hasil dalam jam-jam yang standar :
Masukan dalam jam-jam waktu. Untuk
mengukur suatu produktivitas perusahaan dapatlah digunakan dua jenis ukuran jam
kerja manusia, yakni jam-jam kerja yang harus dibayar dan jam-jam kerja yang
dipergunakan untuk bekerja. Jam kerja yang harus dibayar meliputi semua jam-jam
kerja yang harus dibayar, ditambah jam-jam yang tidak digunakan untuk bekerja
namun harus dibayar, liburan, cuti, libur karena sakit, tugas luar dan sisa
lainnya. Jadi bagi keperluan pengukuran umum produktivitas tenaga kerja kita
memiliki unit-unit yang diperlukan, yakni: kuantitas hasil dan kuantitas
penggunaan masukan tenaga kerja (Sinungan, 2003, p.24-25).
Menurut Wignjosoebroto, (2000,
p.25), produktivitas secara umum akan dapat diformulasikan sebagai berikut:
Produktivitas =
Output/input(measurable)+ input (invisible).
Invisible input meliputi
tingkat pengetahuan, kemampuan teknis, metodologi
kerja dan pengaturan organisasi, dan motivasi kerja. Untuk mengukur produktivitas kerja
dari tenaga kerja manusia, operator mesin, misalnya, maka formulasi berikut
bisa dipakai untuk maksud ini, yaitu:
Produktivitas = total keluaran
yang dihasilkan
Tenaga Kerja jumlah tenaga
kerja yang dipekerjakan Di sini produktivitas dari tenaga kerja ditunjukkan sebagai rasio dari jumlah keluaran
yang dihasilkan per total tenaga
kerja yang jam manusia (man-hours), yaitu jam kerja yang dipakai untuk
menyelesaikan pekerjaan tersebut. Tenaga kerja yang dipekerjakan dapat terdiri
dari tenaga kerja langsung ataupun tidak langsung, akan tetapi biasanya
meliputi keduanya.
2.3
Hipotesis
Hipotesis
merupakan anggapan dasar yang kemudian membuat suatu teori yang masih harus
diuji kebenarannya. Berdasarkan pada masalah pokok dan tinjauan pustaka, maka
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
Ho: Diduga
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara motivasi kerja dan
produktivitas
kerja karyawan.
H1: Diduga bahwa
variabel yang paling dominan mempengaruhi produktivitas karyawan adalah
kebutuhan akan rasa aman.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Daerah
Dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Lhokseumawe, dengan pertimbangan
bahwa baik data maupun informasi yang dibutuhkan mudah diperoleh.
3.2 Jenis dan Sumber Data
1.
Sumber Data
a. Data
Primer yaitu data yang diperoleh melalui hasil penelitian secara
langsung
terhadap obyek yang diteliti yaitu karyawan PDAM Kota Lhokseumawe.
b. Data
Sekunder yaitu data yang diperoleh dan berbagai sumber dokumen-dokumen atau
laporan tertulis lainnya yang ada pada PDAM
Kota Lhokseumawe.
2.
Jenis Data
a.
Data Kuantitatif, data
yang dapat dihitung berupa angka-angka
b.
Data Kualitatif, data
yang tidak dapat dihitung atau data yang berbentuk informasi, yang diperoleh
dari hasil wawancara dengan pimpinan perusahaan dan karyawan lain dalam
perusahaan.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data
dalam penelitian ini maka digunakan metode sebagai berikut:
1.
Penelitian Lapangan,
yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung terhadap objek penelitian.
Teknik yang digunakan adalah:
a. Wawancara
(interview) yaitu melakukan wawancara Iangsung terhadap responden yang dalam
hal ini adalah karyawan, hal ini dimaksudkan melalui percakapan dua arah atas
inisiatif pewawancara demi memperoleh informasi dan responden.
b. Dokumentasi
yaitu mendapatkan data tertulis yang dibutuhkan, yang berasal dan dokumen dan
catatan-catatan perusahaan seperti : jumlah karyawan, besarnya gaji dan upah
yang diberikan, serta data lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
c. Kuesioner
(angket) yaitu pengumpulan data melalui daftar pertanyaan yang disiapkan
masing-masing responden.
2.
Penelitian
Kepustakaan, yaitu penelitian yang
bertujuan untuk memperoleh konsep dan landasan teori dengan mempelajari
berbagai literature, buku, dan dokumen yang berkaitan dengan objek pembahasan.
3.4 Populasi dan Sampel
Populasi dalam
penelitian ini adalah karyawan Perusahaan Daerah Air Minum Kota Lhokseumawe, secara teknis penulis
tidak dapat meneliti setiap anggota atau individu yang terdapat dalam
perusahaan. mengingat adanya keterbatasan waktu, tenaga, biaya, serta tambahan
yang berasal dari populasi tersebut, maka dilakukan terhadap sebagian dari
populasi yang disebut sample. Dalam penelitian ini jumlah Sample (S) sebanyak
100 orang. Dimana cara penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling yang di khususkan pada bagian personalia, sesuai dengan
permintaan perusahaan.
3.5
Pengukuran
Instrumen Penelitian Skala
Untuk memperoleh data
yang diperlukan di dalam penelitian ini digunakan teknik survei dengan angket.
Angket adalah daftar pertanyaan yang didistribusikan melalui pos untuk diisi
dan dikembalikan atau dapat juga dijawab di bawah pengawasan peneliti. Instrumen variabel
penelitian diperoleh melalui jawaban responden dengan memberikan tanda pada
setiap kategori pernyataan yang disusun berdasarkan skala Likert dengan 5 poin.
Setiap jawaban responden akan diberi skor dan jumlah skor menunjukkan tinggi
rendahnya masing-masing variabel yang diukur. Skor yang diberikan pada setiap
jawaban responden adalah:
1.
Sangat Setuju (SS)
dengan skor 5.
2.
Setuju (S) dengan skor
4.
3.
Cukup
Setuju (CS) dengan skor 3.
4.
Tidak Setuju (TS)
dengan skor 2.
5.
Sangat Tidak Setuju
(STS) dengan skor 1.
3.6 Definisi Operasional
Variabel
Agar
diperoleh gambaran mengenai variable
yang akan diteliti dalam penulisan, maka penulis menggunakan pembatasan
variable yang dijelaskan dalam definisi berikut:
1.
Motivasi dapat
didefinisikan sebagai masalah yang sangat penting dalam setiap usaha kelompok
orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi, masalah motivasi
dapat dianggap simpel karena pada dasarnya manusia mudah dimotivasi, dengan
memberikan apa yang diinginkannya.
Terbagi dalam lima kebutuhan, yaitu:
a. Kebutuhan yang bersifat fisiologis
(lahiriyah)
b. Kebutuhan akan Rasa Aman (Safety Needs)
c. Kebutuhan sosial (Social Needs)
d. Kebutuhan akan prestasi (Esteem
Needs)
e. Kebutuhan Akutualisasi Diri (Self
Actualization)
2.
Produktivitas adalah
sikap mental dari pekerja untuk senantiasa berkarya lebih dari apa yang telah
dan sedang diusahakan dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan dari suatu
usaha.
3.7 Metode Analisis
Dari hasil penelitian
yang dikumpulkan maka selanjutnya akan dapat disajikan metode analisis sebagai
berikut :
1.
Analisis deskriptif
yaitu suatu analisis untuk yang menguraikan pemberian motivasi kerja terhadap
produktivitas kerja karyawan.
2.
Analisis regresi linear
berganda yakni suatu analisis untuk melihat sejauh mana pengaruh motivasi
terhadap peningkatan kinerja karyawan, dengan menggunakan rumus regresi
berganda (Iqbal Hasan, 2002 : 278) yaitu :
Y = a + b1 X1 + b2
X2+ b3 X3+ b4 X4+ b5 X5
Dimana :
Y = Produktivitas kerja karyawan
X1 =
Kebutuhan Fisiologis
X2 =
Kebutuhan akan rasa aman
X = Kebutuhan Sosial
X4 = Kebutuhan Akan Prestasi
X5 = Kebutuhan Aktualisasi Diri
a =
Nilai Konstanta
b1,b2,b3
b4,b5 = Koefesien
regresi
3.
Analisis korelasi
berganda yakni suatu analisis untuk melihat sejauh mana pengaruh motivasi dalam
peningkatan produktivitas karyawan dengan menggunakan rumus (Iqbal Hasan, 2002
: 267) yaitu :
Y =
Dimana :
Y = Produktivitas karyawan
X1 = Kebutuhan
Fisiologis
X2 = Kebutuhan
akan rasa Aman
X3 = Kebutuhan Sosial
X4 = Kebutuhan akan Prestasi
X5 = Kebutuhan Aktualisasi
a = Nilai Konstanta
b1,b2,b3b4,b5 = Koefesien
regresi
4.
Untuk mengetahui
signifikan konstanta dari setiap variabel independen terhadap variabel terikat,
maka dilakukan Uji t. Nilai t selanjutnya dikonsultasikan dengan t tabel dengan
menggunakan tingkat keyakinan sebesar 95%.